Tampilkan postingan dengan label Ethnic. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ethnic. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Februari 2016

MUSIK "INDONESIA MAHARDDHIKA" YANG MELEGENDA

Bagi saya, inilah salah satu musik terbaik yang pernah saya dengar. Berjudul "Indonesia Maharddhika" yang dibawakan oleh Guruh Gipsy, band yang dibentuk pada tahun 1976 oleh Guruh Soekarnoputra (composer, pianist, gamelan), Odink Nasution (lead-guitarist), Keenan Nasution (drummer), Chrisye (bassist), Roni Harahap (pianist-keyboardist), dan Abadi Soesman (keyboardist-synthesizer) [1].
Yap, Anda tak salah baca. Itu adalah nama Guruh, anak laki-laki Presiden Pertama RI yang lebih memilih jalur seni sebagai jalan hidupnya. Itu juga nama Keenan yang melegenda dengan lagu seperti "Nuansa Bening" dan "Zamrud Khatulistiwa", serta (alm.) Chrisye yang dipuja lewat lagu "Badai Pasti Berlalu". Nama-nama besar ini berhasil menciptakan 'masterpiece' yang menggema di dunia. Sayang sekali jika Anda tak pernah menikmati dentingan etnik dan cabikan prog-rock dari mereka!
Sampul Album "Indonesia Maharddhika" Guruh Gipsy (1977)
(Sumber : www.youtube.com)

Lagu "Indonesia Maharddhika" sendiri ditulis dalam tiga bahasa, yakni Bahasa Bali, Bahasan Sansekerta, dan Bahasa Indonesia, bercerita tentang Indonesia yang mereka cintai [2]. Lagu ini merentang lebih kurang sepanjang 15 menit. Bukan durasi yang biasa untuk sebuah lagu, namun saya jamin Anda takkan bosan dengan alunan naik-turun dan harmoni yang disuguhkan oleh paduan gamelan Jawa-Bali dan alat-alat musik modern di sini.
"Indonesia Maharddhika" yang sudah 'berusia' hampir 40 tahun ini menempati peringkat ke-59 lagu Indonesia terbaik sepanjang masa versi Majalah Rolling Stone (2009), di mana urutan pertama bertengger lagu "Bongkar"-nya Iwan Fals [3]. Tidak hanya itu, album "Indonesia Maharddhika" sendiri adalah album Indonesia kedua terbaik sepanjang masa, hanya satu peringkat di bawah album terbaik "Badai Pasti Berlalu"-nya Chrisye, versi Majalah Rolling Stone (2007), di mana lagu aransemen Guruh Gipsy lainnya, "Chopin Larung" juga disambut baik [4].
Tak perlu banyak cakap lagi, selamat menikmati!

Sumber : [1] http://everything.explained.today/Guruh_Gipsy/ [2] http://entertainment.kompas.com/read/2014/11/27/152922810/Ada.yang.Tersembunyi.dalam.Lirik.Lagu.Indonesia.Maharddhika. [3] http://musiksyairlagu.blogspot.co.id/2014/04/guruh-gipsy-indonesia-mahardika.html [4] https://id.wikipedia.org/wiki/150_Album_Indonesia_Terbaik [5] http://www.rollingstone.co.id/article/read/2015/08/18/140503333/81/17-lagu-indonesia-bertema-kebangsaan-terbaik

Kukusan, 11 Februari 2016

Rabu, 27 Januari 2016

DISCUS (BAND) MEWARNAI MUSIK DUNIA

Ini adalah standart musik "keren" bagi saya sejak SMA. Ya saya selalu memilih untuk tidak mengikuti trend yang sedang berkembang dan lebih memilih ranah indie atau nostalgia, sebagaimana gandrungnya saya dengan SERINGAI dan GOD BLESS saat itu.
Judul lagu ini adalah "System Manipulation" yang dibawakan oleh band indie bergenre progressive-rock-bercampur jazz dan ethnic, bernama DISCUS. Musik yang luar biasa dengan hentakan khas progressive-rock ditambah bumbu-bumbu seruling sunda serta denting gamelan bali yang magis selama 9 menit.


(Sumber : www.progarchives.com)

Hebohnya, saya baru tahu jika ada band Jepang bernama 京大プログレ部 (nama internasional mereka adalah King Crimson -- https://twitter.com/ku_progyang meng-cover lagu "rumit nan bikin merinding" ini dengan sangat baik! Coba tonton deh.
colonthree emotikon

Untuk versi live dari band aslinya, sempat tayang di program RadioShow TVOne periode 2012 dan bisa ditonton di sini (lagu "System Manipulation" dimulai menit 9:31).

Band DISCUS sendiri digawangi oleh musisi-musisi berbakat negeri ini. Salah satunya adalah Iwan Hasan, seorang lulusan sekolah musik di Amerika, yang kerap membawakan musik etnik Indonesia dan secara khas memainkan alat musik bernama 21-strings guitarharp.


Iwan Hasan dan gitar-harpa 21 senar-nya dalam acara JavaJazz.
(Sumber : www.wartajazz.com)


Di dalam negeri, mungkin gaung musik DISCUS tak banyak orang yang tahu, namun di luar negeri, mereka sudah naik-turun panggung, dari Jerman, Swiss, Meksiko, hingga Amerika Serikat. DISCUS memang baru menelurkan dua album, yakni "1st" (1999) dan "...tot Licht!" (2003), akan tetapi pengaruh musik mereka sudah diakui secara monumental! Kita perlu lebih banyak menikmati dan mendorong musisi-musisi mengagumkan seperti mereka. smile emotikon

Salute.
(Kukusan, 28 Januari 2016)