(Adopted from R.A. Kartini’s letters; 1898 - 1903)
(Discus : Fadhil Indra, Anto Praboe, Iwan Hasan)
Mengharapkan terang yang tak kunjung datang,
dari gelap berselimut tradisi. Tidurlah wanita priyayi,
mimpi untuk seabad lagi...
Tradisi yang berabad-abad... yang tak dapat dipatahkan begitu saja,
membelengu kami
(tapi) meski saat itu masih jauh sekali...
Tak terhingga jauhnya. Tapi saat itu pasti akan tiba,
saya tahu itu, meski baru tiga-empat turunan lagi!
(September, 18th 1899; to Ms. Abendanon)
bela-kan derajat kaumnya, jajar-kan pundak bangsanya
Kartini lantang bicara; maju... sekarang!!
Selimut awan kelabu yang bergerak, mulai menghilang
HABISlah GELAP TERBITLAH Sang Sinar TERANG
Goresan tinta Kartini, menggagas harapnya...
Senandung nada-nada nyanyian hati, keras menentang
Menggugat jaman... (‘tuk) seabad lebih ke depan
Ketika ilmu tak tersentuh jari wanita
Bela-kan derajat kaumnya, jajar-kan pundak bangsanya
Kartini pun lantang bicara: “tentukan sikap untuk maju”
chorus:
Door Dusiternis tot Licht, The Letters of a Princess
[letters of a princess] / [habis gelap, terbitlah terang]
Segenggam bekal Sang Ajeng yang mencari arah nurani
Untuk membawa... arti semangat juangnya
Terhenti gerak luhur oleh adat tradisi
“tetap tinggal di rumah saja” titah ningrat, titah dungu
Raden Ajeng bangkit meronta, jatuh terhempas
tanpa daya...
Nikmati tidurmu seratus tahun lagi, kelak mimpimu menjadi kenyataan,
untuk terlahir di jaman kedambaan
bagi wanita yang hidup bebas... searah...
nurani yang tertitip olehmu...
Mengusung gerak langkah luhurmu...
Menghancurkan dinding batu bengis itu!
(November, 6th 1899; to Stella Zeehandelaar)
Teriakkan kecewa! Jangan bungkam dengan senyum manis...
Ketika.. berakhir harapmu dan raga di ujung kuasa bupati
Bermadu istri-istri jelita... anggun(?)... nan priyayi(?)
Terkungkung pada empat tembok bengis itu
Ingin kudobrak pintu, berlari ke depan, dan berteriak lembut
Hanya di sini tempatku, rumah batu, dan gamelan syahdu
Untuk bukan sebuah kemungkinan maju... tapi patuh sujud...
Di samping bara api yang sudah lama sekali menyala...
menjilat... memancarkan... tepi-tepi biru yang nanti
-entah kapan, mungkin seabad, akan banyak,
yang memadamkannya. Semoga....
(November, 6th 1899; to Stella Zeehandelaar)
Terpasung dinding tradisi yang menjulang, keras membatu
Tiada daya, terhimpit cita-citanya...
Hadapi hidup kodrati, meski hasratnya tak’kan mati...
Seribu telapak berbunyi, ia tak lagi sendiri
Bunga-bunga mekar mewangi
Mengharumkan abdi Sang Bunda....
[LISTEN THIS SONG by DISCUS]
Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan
Kamis, 21 April 2016
Selasa, 01 Maret 2016
Apalah Saya Dibandingkan Tere Liye : Sebuah Pelajaran Sejarah
Alhamdulillah, khusnudzon memang lebih baik. Lagipula, apalah saya dibandingkan Tere Liye yang sudah punya lusinan buku, atau dengan para sejarawan-pengamat-kritikus di luar sana.
MEMANG banyak ulama dan tokoh agama yang ga suka sama penjajah, lalu ngajakin umat buat berjuang; macam kisah-kisah Perang Jawa-nya Pangeran Diponegoro, Perang Padri di Sumbar, Perang Aceh, kemudian Sarekat Islam. Ada peran mereka dalam perjuangan kemerdekaan. Mungkin saat itu muncul 'romantisme' Perang Salib (karena para penjajah kita dulu itu agamanya Kristen), tapi ini sekadar dugaan saya lewat referensi yang terbatas-masih perlu dibuktikan.
TAPI, perlu dicatat, banyak juga ulama dan tokoh agama yang dekat dengan kaum feudal, 'jembatannya' para penjajah di bumi Indonesia. Nah, kaum feudal inilah yang kerap melanggengkan penjajahan. Siapa itu kaum feudal yang dimaksud? Lurah-Camat-Bupati-Gubermen-Raja-Bangsawan-Priyayi-Kabir yang suka menjilat kaum penjajah. Ini yang dilawan Bapak-Ibu Pahlawan di masanya (tentunya selain kaum penjajah itu sendiri). Apesnya, mereka lebih sulit dilawan karena warna kulitnya sama dengan kita.
WALAU demikian, tidak semua kaum feudal itu penjilat. Ada juga raja-raja di Buleleng, Banjar, Makassar, dan Maluku yang mati-matian melawan penjajah. Bahkan, kaum terdidik (dalam artian Barat) pertama bangsa ini lahir dari kaum feudal. Soekarno adalah keturunan ningrat berdarah Jawa-Bali. Soewardi Soerjaningrat yang priyayi, membuang titel kebangsawanannya dan lebih suka dipanggil Ki Hadjar Dewantara. Atau masih ingatkah kita dengan curhatan pilu R.A. Kartini? Mereka adalah kaum feudal yang menolak ekses negatif dari feudalisme itu sendiri, yakni keterkekangan dan kemunafikan.
![]() |
| Para Pahlawan kita datang dari berbagai latar belakang. |
YA, keterkekangan dan kemunafikan adalah gembok pengunci perjuangan kemerdekaan kita. Yang saya maksud sebagai keterkekangan adalah sekat-sekat kesukuan, etnis, ras, kelas, ideologi, dan tertutupnya pikiran. Sedangkan kemunafikan di sini adalah tipu-tipunya kaum penjajah, feudal, kabir, bahkan tokoh agama yang punya kepentingannya sendiri-sendiri. Bagi saya, kunci pembuka gembok itu adalah persatuan dan ilmu pengetahuan (Kebenaran) yang jujur. Siapa sangka jika ilmu pengetahuan yang jujur itu dirintis oleh kaum komunis, pemikir sosialis, aktivis HAM, dan pendukung liberal, dengan kritik serta perlawanannya terhadap kapitalisme-kolonialisme-imperialisme-kerakusan di Indonesia?
Kemerdekaan kita adalah hasil perjuangan multi-sektor. Persatuan dan ilmu pengetahuan lintas sektor-lah yang membuat kita sama-sama terbebas dari penjajahan. Sangat keliru jika menyatakan kaum tertentu lebih berjasa daripada kaum lainnya dalam merealisasikan kemerdekaan. Namun, yang saya sayangkan dari posting Mas Darwis (Tere Liye) sebelumnya adalah klaim dan negasi yang keterlaluan ini. Untunglah beliau mengejawantahkan ulang maksud dari posting-nya itu (walau masih dengan nada defensif). Puji syukur jika polemik seperti ini membuat kita membaca ulang sejarah secara lebih jujur dan menyeluruh.
Sebenarnya masih ada curhatan tentang apa itu "kearifan bangsa sendiri" yang abstrak bin debatable, atau 'penyakit' keterkekangan dan kemunafikan yang masih menjangkit hingga hari ini; entah di kalangan pejabat di Senayan, tentara-tentara di Papua, atau kelas pekerja ngehek di media sosial . Aah, terlalu banyak curhatan dan kesok-tahuan saya di sini, dan nampaknya akan membuat tulisan ini semakin tidak menarik. Sekali lagi, apalah saya dibandingkan Tere Liye.
Tabik.
Kukusan, 2 Maret 2016.
Sumber :
https://www.facebook.com/tereliyewriter/posts/1103275466389687
Sabtu, 09 Mei 2015
BERAKRABAN DENGAN BENCANA
Pada Sabtu, 25 April 2015 lalu, Nepal diguncang gempa bumi berkekuatan
7,8 Skala Ritcher yang menewaskan 7.365 jiwa dan jumlah korban cedera tercatat
14.366 orang (5/5)[1]. Gempa ini
disebabkan oleh benturan lempeng benua India dan Eurasia yang berpusat pada kedalaman
15 kilometer di bawah tanah sekitar wilayah Kathmandu, ibukota Nepal. Akibat
gempa tektonik ini, setidaknya 600 ribu rumah rusak, 4.500 sekolah hancur, dan sekitar
dua juta orang membutuhkan tenda, air, makanan, dan obat-obatan. Nepal juga
pernah mengalami bencana serupa pada tahun 1934, di mana 20 ribu jiwa tewas
akibat gempa berkekuatan 8,0 Skala Ritcher.
Puing-puing bangunan pasca gempa di Distrik Bhaktapur,
Nepal (25/4).
Sumber: Niranjan Shrestha/ASSOCIATED PRESS
Alam Indonesia dan
Bencana
Indonesia pernah mengalami gempa dengan karakteristik serupa
pada 27 Mei 2006 di Yogyakarta. Gempa ini juga diakibatkan oleh benturan lempeng
benua pada kedalaman 17 kilometer di bawah tanah sekitar pesisir Pantai Selatan
Jawa yang padat penduduk hingga menewaskan 6.234 jiwa. Tidak hanya sekali,
gempa bumi memang kerap terjadi di Indonesia. 26 Desember 2004 di Aceh, gempa
berkekuatan 9.3 SR yang diikuti tsunami mengakibatkan 131.028 jiwa meninggal dan
37.000 orang hilang. 30 September 2009 di sekitar Kota Padang, Sumatera Barat,
gempa berkekuatan 7,6 SR menewaskan 1.115 jiwa dan menyebabkan 135.299 rumah
rusak berat[2]. Selain
gempa tektonik akibat benturan lempeng benua, Indonesia juga banyak mengalami
gempa vulkanik seperti yang diakibatkan oleh letusan Gunung Tambora, Nusa
Tenggara Barat pada tahun 1815, dan letusan Gunung Krakatau di Selat Sunda pada
tahun 1883 yang dampaknya terasa di seluruh penjuru dunia.
Alam Indonesia menyimpan sejuta potensi bahaya dan bencana
yang bisa datang kapan saja dan di mana saja. Hal ini disebabkan oleh posisi Indonesia
yang berada pada patahan lempeng Eurasia dan Indo-Australia layaknya Nepal, disebut
sebagai subduksi Sunda Megathrust yang
membentang sepanjang garis pantai selatan Indonesia dan bertemu dengan lempeng
Pasifik dan Filipina di dekat Maluku. Kondisi ini membuat Indonesia memiliki
130 gunung berapi aktif dan rawan mengalami gempa bumi. Selain gempa bumi,
kondisi alam yang demikian juga membuat Indonesia rawan mengalami bencana lainnya
seperti tsunami, tanah longsor, lahar dingin, dan banjir.
Peta lempeng benua antara
Nepal dan Indonesia.
Grafis:
dongenggeologi.com/Rovicky Dwi Putrohari
Bencana alam telah mengakibatkan ribuan orang meninggal
dunia, serta dapat terus berguguran dan menimpa siapa saja. Manusia tidak dapat
menolak terjadinya bencana, namun dapat melakukan persiapan dan mengambil
langkah pencegahan untuk meminimalisasi risiko dan dampak yang mungkin terjadi,
atau berakraban dengan bencana. Langkah-langkah yang dimaksud dikenal sebagai ‘mitigasi
bencana’.
Mitigasi bencana
adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui
pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi
ancaman bencana (Pasal 1 ayat 6 PP No 21 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan
Penanggulangan Bencana). Jadi, mitigasi bencana dapat dilakukan secara struktural terhadap pembangunan fisik
bangunan agar lebih tahan gempa, tata wilayah yang berorientasi pencegahan
bencana, sistem pencegahan dan penanggulangan bencana yang sistematis dan
cepat-tanggap, serta secara non-struktural
yang berkaitan dengan sosialisasi dan persiapan masyarakat tanggap bencana.
Sedangkan untuk mengetahui risiko bencana (risk)
ini, kita perlu memperhitungkan tiga faktor, yakni bahaya (hazard), kerentanan (vulnerability),
dan kapasitas (capacity) yang
terdapat pada suatu wilayah.
Bahaya adalah kejadian yang berpotensi menyebabkan kecelakaan,
cedera, hilangnya nyawa atau kehilangan harta benda. Bahaya dianggap sebuah
bencana (disaster) apabila telah
menimbulkan korban dan kerugian.
Kerentanan adalah
rangkaian kondisi yang menentukan, baik bahaya alam atau buatan, dapat
menimbulkan bencana atau tidak. Rangkaian kondisi yang dimaksud dapat mempengaruhi
kemampuan masyarakat dalam melakukan pencegahan, mitigasi, persiapan dan tindak-tanggap
terhadap dampak bahaya, antara lain berupa,
- Kerentanan fisik : bangunan, infrastruktur, konstruksi yang lemah;
- Kerentanan sosial : kemiskinan, lingkungan, konflik, anak-anak, wanita, lansia;
- Kerentanan mental: ketidaktahuan, tidak menyadari, kurangnya percaya, dsb.
Kapasitas adalah kemampuan untuk memberikan tanggapan terhadap
situasi bahaya/bencana dengan sumber daya yang tersedia (fisik, manusia,
keuangan, budaya dan lainnya).
Risiko adalah
potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada suatu wilayah dalam
kurun waktu tertentu yang dapat berupa kematian, luka, sakit, hilangnya rasa
aman, mengungsi, kerusakan atau kehilangan harta, dan gangguan kegiatan
masyarakat yang diakibatkan oleh kombinasi bahaya, kerentanan, dan kapasitas
yang ada.[3]
Yang Penting untuk
Berakraban dengan Bencana
Ada empat hal penting dalam mitigasi bencana dan dapat kita
lakukan bersama, yakni
- Penyediaan informasi dan peta kawasan rawan bencana untuk tiap jenis bencana yang dapat disediakan oleh Pemerintah Daerah setempat bekerjasama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (www.bmkg.go.id), Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Kementerian ESDM (www.vsi.esdm.go.id), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (www.bnpb.go.id), dan lembaga lainnya, serta dipublikasikan secara luas di tempat-tempat umum.
- Sosialisasi untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat dalam menghadapi bencana dengan melibatkan komunitas, organisasi non-pemerintah, tokoh masyarakat, dan pemuda secara rutin dan berkelanjutan.
- Mengetahui apa yang perlu dilakukan dan dihindari, serta mengetahui cara penyelamatan diri jika bencana timbul. Hal ini dapat dilakukan melalui pendidikan formal kepada anak-anak, rapat/rembug warga, seminar, workshop, dan simulasi yang dilakukan di tengah masyarakat umum. Pembuatan media sosialisasi secara kreatif dan inovatif juga perlu dilakukan untuk memperluas pengetahuan akan mitigasi dan penanggulangan bencana.
- Pengaturan dan penataan kawasan rawan bencana untuk mengurangi ancaman bencana. Hal ini dapat dilakukan dengan memperkuat koordinasi dan sinergi antar lembaga, serta pemanfaatan teknologi kebencanaan secara luas seperti konstruksi bangunan tahan gempa, hydrant, tsunami warning system, dan penggunaan robot/drone untuk membantu proses evakuasi bencana.
Tidak ada manusia yang ingin terimpa bencana, dan kita tidak
dapat menyalahkan alam akan bahaya yang dapat datang tiba-tiba. Oleh sebab itu,
kita perlu mengakrabkan diri dengan bencana, mengenal dan memahami risiko, serta
mengetahui tindak-tanggap yang harus dilakukan sebelum, di saat, dan sesudah
bencana agar kita tidak kaget ketika berjumpa dengannya. Biasanya badai yang dahsyat berawal dari malam yang
tenang. Penulis harap tidak demikian, karena Indonesia sudah sedia payung sebelum hujan.
***
Depok, 9 Mei 2015.
Langitantyo Tri Gezar – Gerakan Mari Berbagi
Informasi lebih lanjut
mengenai mitigasi bencana dan yang harus dilakukan di saat bencana, baca
[1]Tempo. 5
Mei 2015. Gempa Nepal: Korban Jiwa Sudah
Mencapai 7.365 Orang. http://www.tempo.co/read/news/2015/05/05/118663578/Gempa-Nepal-Korban-Jiwa-Sudah-Mencapai-7365-Orang,
diakses pada 9 Mei 2015.
[2]Wikipedia.
Daftar gempa bumi di Indonesia. http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_gempa_bumi_di_Indonesia,
diakses pada 9 Mei 2015.
[3]Pusat
Pendidikan Mitigasi Bencana (P2MB), Universitas Pendidikan Indonesia. Apakah Mitigasi Bencana itu? http://p2mb.geografi.upi.edu/Mitigasi_Bencana.html,
diakses pada 9 Mei 2015.
Jumat, 22 Juni 2012
Geopolitik dan Geostrategi untuk Menjaga Keanekaragaman Hayati Indonesia
Oleh : Langitantyo Tri Gezar, Ilmu Komunikasi FISIP UI 2010
Orang dan tempat tidak dapat dipisahkan (Ir. Soekarno). Begitulah
sekiranya pandangan sebuah Negara dalam mempertahankan ruang hidup
rakyatnya. Sebab itu, ruang hidup atau wilayah Negara haruslah dijaga
kedaulatannya sebagai bagian kesatuan Negara. Untuk mempertahankannya,
bangsa perlu mempunyai kesatuan cara pandang, yang di Indonesia disebut Wawasan Nusantara, sebagai konsepsi dasar geopolitiknya.
Di dalam ruang hidup rakyat Indonesia, sejak dahulu kala telah hidup
beragam makhluk hidup, yaitu tumbuhan dan hewan. Keanekaragaman tersebut
adalah sebuah keunikan yang diciptakan dari kondisi geografis Indonesia
yang unik pula. Indonesia terletak di antara 2 Benua (Asia dan
Australia) dan 2 Samudra (Pasifik dan Hindia), sehingga memungkinkan
terjadinya peralihan flora fauna antara kedua tempat pada masa lampau.
Indonesia terhampar di sekitar khatulistiwa yang menyebabkan Indonesia
beriklim tropis. Selain itu Indonesia dikelilingi perairan (iklim
musoon), yang sangat mendukung tumbuh-kembang beragam makhluk hidup
karena hujan sepanjang tahun. Indonesia yang merupakan Negara kepulauan
jugalah unik. Di tiap pulau, dapat ditemukan keberagaman hayati yang
berbeda-beda karena terjadi isolasi antar-pulau, adaptasi, dan evolusi
yang berlangsung sejak lama dan murni. Kemudian posisi Indonesia juga
terletak dalam pertemuan antara 2 sirkum pegunungan berapi dunia (Sirkum
Mediterannean dan Sirkum Pasifik), yang secara tidak langsung
menyebabkan tanah Indonesia menjadi subur. Sudah sepantasnya keberadaan
keberagaman hayati ini dimanfaatkan sebagai sumber daya serta
dilestarikan sebagai warisan.
Oleh karena pentingnya keberadaan makhluk hidup yang beragam tersebut
demi pemenuhan kebutuhan nasional dan pengusahaan kesejahteraan rakyat,
dibutuhkan implementasi Wawasan Nusantara yang utuh dalam menjaga
keanekaragaman hayati. Nilai-nilai Wawasan Nusantara tercantum dalam
Pembukaan UUD 1945 sebagai tujuan dan cita-cita bangsa, dan juga
Pancasila sebagai ideologi. Nilai-nilai tersebutlah yang perlu dicapai.
Sedangkan untuk mencapai sebuah tujuan, dibutuhkan cara dalam
implementasi ide, yaitu strategi. Maka dalam geopolitik dikenal pula
geostrategi sebagai pelaksanaan geopolitik dalam Negara (Poernama,
1972).
Geostrategi bangsa dan Negara Indonesia adalah Ketahanan Nasional.
Ketahanan ini terdiri dari aspek sosial, budaya, moral, ekonomi, dan
militer. Maka dari itu, para pemimpin dan cendekiawan bangsa harus bisa
menetapkan dan melaksanakan strategi kewilayahan secara tepat dan
berkomitmen. Mengapa geostrategi menjadi sangat penting? Karena kita
memiliki wilayah strategis dan kaya yang idealnya mampu memberikan
kesejahteraan nasional. Wilayah itulah yang patut dipertahankan dengan
strategi sesuai keadaan dan tantangan.
Namun, tidak hanya bangsa Indonesia sendiri yang merasa butuh untuk
memanfaatkan kekayaan tersebut. Oleh Mahan, terdapat faktor situasi
geografi, yaitu topografi yang dikaitkan dengan ada tidaknya akses ke
laut serta kekayaan alam dan zona iklim, yaitu faktor yang mengkaitkan
kemampuan industri dengan kemandirian penyediaan pangan, yang membuat
betapa menggiurkannya Indonesia bagi Negara lain demi pemenuhan
kebutuhan mereka. Menurut Kusumaatmaja, 2003:25, ada empat macam Negara yang
berkepentingan atas wilayah kita, yaitu 1. Negara tetangga (ASEAN dan
Australia), 2. Negara perikanan (Jepang), 3. Negara perkapalan
(Inggris), dan 4. Negara adidaya militer (AS).
Tanpa bangsa asing pun, warga Negara Indonesia sendiri telah
melakukan eksploitasi besar-besaran atas kekayaan dan keanekaragaman
hayatinya. Sedangkan kenyataanya, banyak Negara asing yang juga mengeruk
untung dari kekayaan di dalam wilayah Indonesia, baik secara legal
(diberi izin pemerintah) maupun illegal. Eksploitasi gila-gilaan inilah
yang merusak banyak habitat makhluk hidup. Yang selanjutnya secara
langsung membunuh dan secara tidak langsung menghilangkan rumah
makhluk-makhluk itu. Jika terus menerus terjadi, semakin banyak makhluk
hidup yang mati, dan berikutnya punah. Apakah kepunahan harta
(keanekaragaman hayati) ini yang ingin digapai geopolitik dan
geostrategi Indonesia?
DAFTAR PUSTAKA
Tim Penyusun Buku Ajar III MPKT 2010. 2010. Buku Ajar III, Bangsa, Budaya, dan Lingkungan Hidup di Indonesia, Jakarta: Badan Penerbit FKUI.
Geopolitik dan Geostrategi Indonesia dalam Wawasan Nusantara
Oleh : Langitantyo Tri Gezar, Ilmu Komunikasi FISIP UI 2010
Pandangan geo-politik Indonesia berlandaskan pada pemikiran
kewilayahan dan kehidupan bangsa Indonesia, dengan unsur rasa
kebangsaan, paham kebangsaan, dan semangat kebangsaan. Hal tersebut
biasa disebut sebagai Wawasan Nusantara yang mempunyai
latar belakang, kedudukan, fungsi, dan tujuan filosofis sebagai dasar
pengembangan wawasan nasional Indonesia dalam kesatuan politik, ekonomi,
sosial, dan hankam yang sangat mendasar.
Latar belakangnya antara lain adalah:
1. Falsafah Pancasila,
nilai-nilai Pancasila tentang penerapan Hak Asasi Manusia (HAM),
mengutamakan kepentingan umum, dan pengambilan keputusan berdasarkan
musyawarah untuk mufakat.
2. Aspek Kewilayahan Nusantara yang kaya dan
strategis.
3. Aspek Sosial Budaya karena keberagamannya.
4. Aspek
Kesejarahan.
Secara ideal, kemudian dijelaskan kedudukan-kedudukan:
1. Pancasila
sebagai filsafat, ideologi bangsa, dan dasar Negara, UUD 1945 sebagai
konstitusi Negara dan landasan ideal.
2. Wawasan nusantara sebagai
geopolitik Indonesia.
3. Ketahanan nasional sebagai geo-strategi bangsa
dan negara Indonesia.
4. Politik dan strategi nasional sebagai
kebijaksanaan dasar nasional dalam pembangunan nasional serta landasan
konsepsional.
Pada awalnya, fungsi Wawasan Nusantara adalah sebagai pedoman,
motivasi, dan rambu dalam pengambilan kebijakan dan keputusan berbangsa
dan bernegara. Sedangkan tujuannya adalah demi kesejahteraan dan
persatuan rakyat, atau tertuang dalam Pembukaan UUD 1945.
Bentuk Wawasan Nusantara yakni:
1. Wawasan nusantara sebagai landasan
konsepsi ketahanan nasional.
2. Wawasan nusantara sebagai wawasan
pembangunan, perwujudan kepulauan Nusantara sebagai satu kesatuan
politik, kesatuan ekonomi, kesatuan sosial dan ekonomi, kesatuan sosial
dan politik, dan kesatuan pertahanan dan keamanan.
3. Wawasan nusantara
sebagai wawasan pertahanan dan keamanan Negara.
4. Wawasan nusantara
sebagai wawasan kewilayahan, yaitu risalah sidang BPUBPKI, 29 Mei-1 Juni
1945, Ordonantie (UU Belanda) 1939, dan Deklarasi Juanda, 13
Desember 1957 yang berisi
a) Penarikan batas laut wilayah pada sistem
penarikan garis lurus (straight base line),
b) Penentuan
wilayah lebar laut 12 mil,
c) Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) 200 mil
sebagai rezim Hukum Internasional. Dengan adanya Deklarasi Juanda, secara
yuridis formal, Indonesia menjadi utuh dan tidak terpecah lagi.
Selain itu, geostrategi Indonesia sebagai doktrin pembangunan
mengandung metode pembentukan keuletan dan pembentukan ketangguhan
bangsa dan Negara. Kemudian mengupayakan terwujudnya jaringan integratif
(dalam semangat gotong-royong) secara berjenjang dan berhierarkhi
berskala nasional adalah geostrategi Indonesia untuk mewujudkan dan
sekaligus mempertahankan integrasi bangsa.
Wawasan Nusantara dapat diimplementasi dalam:
1. Kehidupan politik,
pelaksanaan kehidupan politik yang diatur UU harus menjalankan prinsip
demokratis dan keadilan, sesuai hukum berlaku, mengembangkan sikap HAM
dan pluralisme, memperkuat komitmen institusi politik dan korps
diplomatik untuk menjaga wilayahnya.
2. Kehidupan ekonomi, berorientasi
pada sektor pemerintahan, pertanian, dan perindustrian, memperhatikan
keadilan dan pemerataan, serta melibatkan partisipasi rakyat.
3.
Kehidupan sosial, mengembangkan kehidupan toleran atau rukun serta
pelestarian kekayaan budaya.
4. Kehidupan pertahanan dan keamanan,
keikutsertaan aktif pembelaan Negara oleh rakyat, membangun rasa
persatuan, dan membangun TNI profesional.
Sudah terdapat banyak pemikiran mengenai geopolitik dan geostrategi
dunia.
1. Friederich Ratzel (1844 - 1904), Teori Ruang menyatakan “bangsa yang berbudaya tinggi akan membutuhkan SDM yang tinggi dan akhirnya mendesak wilayah bangsa yang primitif”;
2. Karl Haushofer (1869 - 1946) Teori Pan Region, berpendapat terdapat empat kawasan benua (pan region)
dan dipimpin oleh negara unggul, yaitu Pan Amerika (USA), Pan Asia
Timur (China, Jepang, Indonesia), Pan Rusia India, dan Pan Eropa Afrika.
Dari teori di atas, muncul pertanyaan: “Apakah Indonesia akan selalu
menjadi sasaran intervensi dan subversi asing?” Jawabnya “ya”, karena
beberapa hal:
1. Secara geo-politik Indonesia “menduduki” Sea Lines of
Communication (SLOC), alur antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia,
sehingga Indonesia harus dibuat pro-Barat atau akomodatif bagi mereka.
2. Barat melihat Indonesia merupakan negara yang moderat dan mayoritas
muslim.
3. Potensi Indonesia sebagai penjuru ASEAN, dapat dikuasai untuk
membendung pengaruh. Karena itulah kita tidak boleh naif, dengan
mengganggap bahwa dalam pemilihan Presiden tidak ada intervensi
luar. Indonesia terlalu “berharga” untuk dibiarkan menjadi musuh Barat.
Dalam kenyataan historis, dinasti Cendana atau keluarga Presiden
Suharto dapat berkuasa selama 32 tahun bisa jadi disebabkan kebijakannya
yang pro-barat. Kekuasaannya terus bertahan karena mendapat bantuan
dari Barat. Politik dinasti ini selain berkepentingan bagi pemilik
kekuasaan dan keluarganya, namun juga dalam pembahasan geopolitik
geostrategi adalah untuk mempertahankan pengaruh luar dengan berbagai
cara (geografis, ekonomi, politik).
DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Geopolitik_di_Indonesia, diakses tanggal 20 November 2010.
http://www.dephan.go.id/pothan/Isi%20Geo.htm, diakses tanggal 20 November 2010.
Langganan:
Postingan (Atom)




