Jumat, 04 Maret 2016

The One-Hundred Word Eulogy

The One-Hundred Word Eulogy:

Since the creation of the Universe,
God had decreed to appoint,
This great faith-preaching man,
From the West he was born,
He received the Holy Scripture,
A Book of thirty parts,
To guide all creation,
Master of all Rulers,
Leader of Holy Ones,
With Support from Above,
To Protect His Nation,
With five daily prayers,
Silently hoping for peace,
His heart towards Allah,
Empowering the poor,
Saving them from calamity,
Seeing through the darkness,
Pulling souls and spirits,
Away from all wrongdoings,
A Mercy to the Worlds,
Traversing the ancient majestic path,
Vanquishing away all evil,
His Religion Pure and True,
Muhammad,
The Noble & Great one.

Written by Sh. Musa Cerantonio
Originally written in Chinese language,
by Hon-wu, Emperor of China (1368 - 1398 CE)

chinesepoemmuhammad

Source :
http://alsiraat.co.uk/prophet-muhammad/chinese-emperors-poem-prophet-muhammad-saw

Selasa, 01 Maret 2016

Apalah Saya Dibandingkan Tere Liye : Sebuah Pelajaran Sejarah

Alhamdulillah, khusnudzon memang lebih baik. Lagipula, apalah saya dibandingkan Tere Liye yang sudah punya lusinan buku, atau dengan para sejarawan-pengamat-kritikus di luar sana.

MEMANG banyak ulama dan tokoh agama yang ga suka sama penjajah, lalu ngajakin umat buat berjuang; macam kisah-kisah Perang Jawa-nya Pangeran Diponegoro, Perang Padri di Sumbar, Perang Aceh, kemudian Sarekat Islam. Ada peran mereka dalam perjuangan kemerdekaan. Mungkin saat itu muncul 'romantisme' Perang Salib (karena para penjajah kita dulu itu agamanya Kristen), tapi ini sekadar dugaan saya lewat referensi yang terbatas-masih perlu dibuktikan.

TAPI, perlu dicatat, banyak juga ulama dan tokoh agama yang dekat dengan kaum feudal, 'jembatannya' para penjajah di bumi Indonesia. Nah, kaum feudal inilah yang kerap melanggengkan penjajahan. Siapa itu kaum feudal yang dimaksud? Lurah-Camat-Bupati-Gubermen-Raja-Bangsawan-Priyayi-Kabir yang suka menjilat kaum penjajah. Ini yang dilawan Bapak-Ibu Pahlawan di masanya (tentunya selain kaum penjajah itu sendiri). Apesnya, mereka lebih sulit dilawan karena warna kulitnya sama dengan kita.

WALAU demikian, tidak semua kaum feudal itu penjilat. Ada juga raja-raja di Buleleng, Banjar, Makassar, dan Maluku yang mati-matian melawan penjajah. Bahkan, kaum terdidik (dalam artian Barat) pertama bangsa ini lahir dari kaum feudal. Soekarno adalah keturunan ningrat berdarah Jawa-Bali. Soewardi Soerjaningrat yang priyayi, membuang titel kebangsawanannya dan lebih suka dipanggil Ki Hadjar Dewantara. Atau masih ingatkah kita dengan curhatan pilu R.A. Kartini? Mereka adalah kaum feudal yang menolak ekses negatif dari feudalisme itu sendiri, yakni keterkekangan dan kemunafikan.

Para Pahlawan kita datang dari berbagai latar belakang.

YA, keterkekangan dan kemunafikan adalah gembok pengunci perjuangan kemerdekaan kita. Yang saya maksud sebagai keterkekangan adalah sekat-sekat kesukuan, etnis, ras, kelas, ideologi, dan tertutupnya pikiran. Sedangkan kemunafikan di sini adalah tipu-tipunya kaum penjajah, feudal, kabir, bahkan tokoh agama yang punya kepentingannya sendiri-sendiri. Bagi saya, kunci pembuka gembok itu adalah persatuan dan ilmu pengetahuan (Kebenaran) yang jujur. Siapa sangka jika ilmu pengetahuan yang jujur itu dirintis oleh kaum komunis, pemikir sosialis, aktivis HAM, dan pendukung liberal, dengan kritik serta perlawanannya terhadap kapitalisme-kolonialisme-imperialisme-kerakusan di Indonesia?

Kemerdekaan kita adalah hasil perjuangan multi-sektor. Persatuan dan ilmu pengetahuan lintas sektor-lah yang membuat kita sama-sama terbebas dari penjajahan. Sangat keliru jika menyatakan kaum tertentu lebih berjasa daripada kaum lainnya dalam merealisasikan kemerdekaan. Namun, yang saya sayangkan dari posting Mas Darwis (Tere Liye) sebelumnya adalah klaim dan negasi yang keterlaluan ini. Untunglah beliau mengejawantahkan ulang maksud dari posting-nya itu (walau masih dengan nada defensif). Puji syukur jika polemik seperti ini membuat kita membaca ulang sejarah secara lebih jujur dan menyeluruh.

Sebenarnya masih ada curhatan tentang apa itu "kearifan bangsa sendiri" yang abstrak bin debatable, atau 'penyakit' keterkekangan dan kemunafikan yang masih menjangkit hingga hari ini; entah di kalangan pejabat di Senayan, tentara-tentara di Papua, atau kelas pekerja ngehek di media sosial . Aah, terlalu banyak curhatan dan kesok-tahuan saya di sini, dan nampaknya akan membuat tulisan ini semakin tidak menarik. Sekali lagi, apalah saya dibandingkan Tere Liye.

Tabik.

Kukusan, 2 Maret 2016.



Sumber :

https://www.facebook.com/tereliyewriter/posts/1103275466389687

Kamis, 25 Februari 2016

Nausicaä and the Start of the Adventure

The best random-searching moment yesterday, was that I watched "Nausicaä of the Valley of the Wind" (1984) for the first time. It was a great introduction to Studio Ghibli too, whereas the studio been founded just after the movie's success in 1985.

Yeah, I knew Nausicaä, I knew Studio Ghibli since a long-long time ago, but did never really watched one. Hell yeah Indonesian television. You do prefer to have low-taste-yet-cheap programs rather than airred such art-works. Otherwise, thanks to internet connection of modern civilization (if our beloved former minister asked: what is for to have fast internet connection? God-damn to watch anime, online!).

Okay, back to the topic. "Nausicaä of the Valley of the Wind" was created by Hayao Miyazaki (1941-). It tells about a seaside kingdom called Valley of the Wind, which exist a thousand years in the future after an apocalyptic war that destroyed civilizations and nature. This kingdom is led by a young princess named Nausicaä, an adventurous, warm-hearted girl, who constantly tries to live alongside 'Ohm', a giant-mutant-insects that resident Sea of Decays/Toxic Jungle. Nausicaä's world is the one where human-being harmed nature so bad that it triggers 'natural-mechanism' to counter our existence. Actually, a lesson to fight brutal industrialization and raging wars like today.
Nausicaa of the Valley of the Wind's Poster (1984)
Source: www.nonamemovieblog.wordpress.com

Futhermore, this movie was scored 8.1/10 by IMDb, recommended by World Wild Fund (WWF), and advocating environmental issues throughout decades. It still shivers me to know that this movie was made in 1984, and the story's becoming more relevant to our reality day by day. Beside the idea of environmentalism, a story of young princess who protects her people, doing research (science!), fights decisively, and befriends ugly creature like Ohm is extraordinary and charming in the same time. It is incomparable to the common princesses who only wait for its prince to save herself from the witch. Nausicaä is a beautiful story for all ages.

Somewhat, the gliders of the Valley of the Wind (a wind-riding vehicle) and the aircrafts there also fascinate me. I believe that it (and also with "A Castle in the Sky" (1986)'s aircrafts, another Ghibli's movie) inspire the design of "Wind Rider" (2006) and "Windrider: Sky Age" (2010), an Indonesian comic made by Is Yuniarto. I do not know where the first inspiration of these gliders come from. Even DaVinci's work and Mayan's relic have a similar design too. Well, not really important though. What important is, "Nausicaä, the Valley of the Wind" start my adventure with the beauty of Studio Ghibli's masterpieces.

"Spirited Away", "My Neighbor Totoro", and "Princess Mononoke" to go!

Kukusan,

Rabu, 10 Februari 2016

MUSIK "INDONESIA MAHARDDHIKA" YANG MELEGENDA

Bagi saya, inilah salah satu musik terbaik yang pernah saya dengar. Berjudul "Indonesia Maharddhika" yang dibawakan oleh Guruh Gipsy, band yang dibentuk pada tahun 1976 oleh Guruh Soekarnoputra (composer, pianist, gamelan), Odink Nasution (lead-guitarist), Keenan Nasution (drummer), Chrisye (bassist), Roni Harahap (pianist-keyboardist), dan Abadi Soesman (keyboardist-synthesizer) [1].
Yap, Anda tak salah baca. Itu adalah nama Guruh, anak laki-laki Presiden Pertama RI yang lebih memilih jalur seni sebagai jalan hidupnya. Itu juga nama Keenan yang melegenda dengan lagu seperti "Nuansa Bening" dan "Zamrud Khatulistiwa", serta (alm.) Chrisye yang dipuja lewat lagu "Badai Pasti Berlalu". Nama-nama besar ini berhasil menciptakan 'masterpiece' yang menggema di dunia. Sayang sekali jika Anda tak pernah menikmati dentingan etnik dan cabikan prog-rock dari mereka!
Sampul Album "Indonesia Maharddhika" Guruh Gipsy (1977)
(Sumber : www.youtube.com)

Lagu "Indonesia Maharddhika" sendiri ditulis dalam tiga bahasa, yakni Bahasa Bali, Bahasan Sansekerta, dan Bahasa Indonesia, bercerita tentang Indonesia yang mereka cintai [2]. Lagu ini merentang lebih kurang sepanjang 15 menit. Bukan durasi yang biasa untuk sebuah lagu, namun saya jamin Anda takkan bosan dengan alunan naik-turun dan harmoni yang disuguhkan oleh paduan gamelan Jawa-Bali dan alat-alat musik modern di sini.
"Indonesia Maharddhika" yang sudah 'berusia' hampir 40 tahun ini menempati peringkat ke-59 lagu Indonesia terbaik sepanjang masa versi Majalah Rolling Stone (2009), di mana urutan pertama bertengger lagu "Bongkar"-nya Iwan Fals [3]. Tidak hanya itu, album "Indonesia Maharddhika" sendiri adalah album Indonesia kedua terbaik sepanjang masa, hanya satu peringkat di bawah album terbaik "Badai Pasti Berlalu"-nya Chrisye, versi Majalah Rolling Stone (2007), di mana lagu aransemen Guruh Gipsy lainnya, "Chopin Larung" juga disambut baik [4].
Tak perlu banyak cakap lagi, selamat menikmati!

Sumber : [1] http://everything.explained.today/Guruh_Gipsy/ [2] http://entertainment.kompas.com/read/2014/11/27/152922810/Ada.yang.Tersembunyi.dalam.Lirik.Lagu.Indonesia.Maharddhika. [3] http://musiksyairlagu.blogspot.co.id/2014/04/guruh-gipsy-indonesia-mahardika.html [4] https://id.wikipedia.org/wiki/150_Album_Indonesia_Terbaik [5] http://www.rollingstone.co.id/article/read/2015/08/18/140503333/81/17-lagu-indonesia-bertema-kebangsaan-terbaik

Kukusan, 11 Februari 2016

Rabu, 27 Januari 2016

DISCUS (BAND) MEWARNAI MUSIK DUNIA

Ini adalah standart musik "keren" bagi saya sejak SMA. Ya saya selalu memilih untuk tidak mengikuti trend yang sedang berkembang dan lebih memilih ranah indie atau nostalgia, sebagaimana gandrungnya saya dengan SERINGAI dan GOD BLESS saat itu.
Judul lagu ini adalah "System Manipulation" yang dibawakan oleh band indie bergenre progressive-rock-bercampur jazz dan ethnic, bernama DISCUS. Musik yang luar biasa dengan hentakan khas progressive-rock ditambah bumbu-bumbu seruling sunda serta denting gamelan bali yang magis selama 9 menit.


(Sumber : www.progarchives.com)

Hebohnya, saya baru tahu jika ada band Jepang bernama 京大プログレ部 (nama internasional mereka adalah King Crimson -- https://twitter.com/ku_progyang meng-cover lagu "rumit nan bikin merinding" ini dengan sangat baik! Coba tonton deh.
colonthree emotikon

Untuk versi live dari band aslinya, sempat tayang di program RadioShow TVOne periode 2012 dan bisa ditonton di sini (lagu "System Manipulation" dimulai menit 9:31).

Band DISCUS sendiri digawangi oleh musisi-musisi berbakat negeri ini. Salah satunya adalah Iwan Hasan, seorang lulusan sekolah musik di Amerika, yang kerap membawakan musik etnik Indonesia dan secara khas memainkan alat musik bernama 21-strings guitarharp.


Iwan Hasan dan gitar-harpa 21 senar-nya dalam acara JavaJazz.
(Sumber : www.wartajazz.com)


Di dalam negeri, mungkin gaung musik DISCUS tak banyak orang yang tahu, namun di luar negeri, mereka sudah naik-turun panggung, dari Jerman, Swiss, Meksiko, hingga Amerika Serikat. DISCUS memang baru menelurkan dua album, yakni "1st" (1999) dan "...tot Licht!" (2003), akan tetapi pengaruh musik mereka sudah diakui secara monumental! Kita perlu lebih banyak menikmati dan mendorong musisi-musisi mengagumkan seperti mereka. smile emotikon

Salute.
(Kukusan, 28 Januari 2016)

BLI TRAWAN "IRONMAN INDONESIA", KESENJANGAN, DAN AKHIR UMAT MANUSIA


"...Bli Tawan juga bercerita, “kalau saya orang tidak baik, mesin pengupas jagung bisa saja saya sket untuk langsung otomatis bekerja, tanpa manusia bisa otomatis. Tapi saya berpikir, itu namanya saya mematikan rejeki orang lain. Maka saya buat, agar mesin itu berfungsi dan manusia nya (buruh) juga bisa tetap bekerja,” tutur nya lagi." [1]

Selain Si Penulis (citizen journalist) yang luar biasa karena mendatangi langsung Bli Tawan "Iron Man Indonesia" untuk melakukan verifikasi (ya, VERIFIKASI, yang seharusnya menjadi tugas jurnalis media 'beneran'), cuplikan pernyataan Bli Tawan di atas sangat menarik. Kutipan ini sejalan dengan video wawancara bersama Prof. Stephen Hawking yang saya tonton semalam. Video itu mendiskusikan bahaya Artificial Intelligence (AI) dan robot bagi umat manusia.
Secara singkat, Prof. Hawking berargumen bahwa AI akan memusnahkan peradaban manusia JIKA digunakan oleh KAPITALISME sebagai moda produksi tanpa batas, menggantikan lapangan kerja, dan memperlebar kesenjangan ekonomi [2]. Tidak hanya itu, penumpukan modal juga membuat teknologi seperti AI hanya dapat diakses oleh para pemilik modal. "Selama ini kapitalisme telah menunjukkan hal itu," ujarnya. Jadi bukan AI-lah yang patut kita takuti, tetapi kapitalisme yang semakin serakah.

Apa hubungannya dengan Bli Tawan? Bli Tawan adalah korban kesenjangan. Dirinya yang dikucilkan karena terlahir dalam keluarga orang tua disabilitas dan lumpuh kesulitan mendapatkan pekerjaan. Ia terpaksa hidup seadanya. Beruntung Bli Tawan memiliki kawan dan pikiran yang mendorongnya berinovasi menciptakan lengan bionic-nya sendiri. Beruntung pula, walau dia tidak berpunya, dirinya masih jauh lebih baik daripada korporasi-korporasi yang menghisap kaum buruh seenak jidat. Bayangkan, di tengah pencarian rezekinya sendiri, ia masih memikirkan rezeki orang lain, kawan-kawan!

Bli Trawan dan tangan bionic-nya.
(Sumber: kompasiana.com)


Bli Trawan memang cemerlang dan berhati baja. Namun kita juga perlu merenung, bahwa umat manusia akan musnah bukan oleh AI atau robot itu sendiri, namun oleh kapitalisme. Akses seluas-luasnya terhadap modal harus menjadi keniscayaan untuk mengentaskan kesenjangan. Masih banyak orang-orang tak berpunya seperti Bli Tawan yang membutuhkan bantuan teknologi namun terlalu mahal.

Sudah ada beberapa konsep yang berkembang: open-sourcing, crowd-sourcing, copyleft, open-society, dsb., untuk membuka akses yang lebar bagi siapa saja terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Ini yang harus selalu kita usahakan, agar AI+robot tidak hanya memudahkan kaum kapitalis mengeruk keuntungan, tapi benar-benar membantu hidup semua orang.

(Kukusan, 27 Januari 2016)

Sumber:


[1] http://www.kompasiana.com/takutpada-allah-/mengungkap-rahasia-lengan-robot-bli-tawan_56a597b63dafbdf80450453b

[2] http://www.huffingtonpost.com/entry/stephen-hawking-capitalism-robots_us_5616c20ce4b0dbb8000d9f15

Update:
https://www.facebook.com/KompasTV/videos/1073821262670105/

Sabtu, 29 Agustus 2015

Kepompong yang tak Kunjung Berkembang


Apakah kau tahu tentang kisah seekor kepompong yang tak kunjung berkembang?
Mari aku ceritakan.

Di sebuah belantara yang tak pernah padam,
dengan perjuangan dan kebengisan,
kepompong ini tumbuh.
Berawal dari ulat kecil yang polos dan bodoh,
ia sendirian memintal dirinya dengan benang ketidaktahuan.
Dimana teman-temannya memintal dengan benang harapan dan kepastian.
Ia hanya seekor ulat yang polos dan bodoh,
menjadi kepompong yang mudah dilupakan.

Berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun.
Satu per satu kepompong berkembang,
menjadi kupu-kupu anggun yang penuh harapan.
Warna-warni membawa ide akan masa depan,
untuk sekitarnya, atau hanya untuk diri seorang.
Mereka terbang menantang dunia yang fana.

Tak lama kemudian, kupu-kupu ini berguguran.
Ada karena terik mentari kepalsuan,
sengat ketidaktahudirian,
atau asap industri kebatilan.
Warna-warninya punah dirundung zaman,
walau beberapanya terbang ke masa depan yang benderang.

Lalu bagaimana dengan ulat kecil yang polos dan bodoh itu?
Ia hanya menjadi kepompong yang tak kunjung berkembang.

(Kukusan, 29 Agustus 2015)