Kamis, 25 Februari 2016

Nausicaä and the Start of the Adventure

The best random-searching moment yesterday, was that I watched "Nausicaä of the Valley of the Wind" (1984) for the first time. It was a great introduction to Studio Ghibli too, whereas the studio been founded just after the movie's success in 1985.

Yeah, I knew Nausicaä, I knew Studio Ghibli since a long-long time ago, but did never really watched one. Hell yeah Indonesian television. You do prefer to have low-taste-yet-cheap programs rather than airred such art-works. Otherwise, thanks to internet connection of modern civilization (if our beloved former minister asked: what is for to have fast internet connection? God-damn to watch anime, online!).

Okay, back to the topic. "Nausicaä of the Valley of the Wind" was created by Hayao Miyazaki (1941-). It tells about a seaside kingdom called Valley of the Wind, which exist a thousand years in the future after an apocalyptic war that destroyed civilizations and nature. This kingdom is led by a young princess named Nausicaä, an adventurous, warm-hearted girl, who constantly tries to live alongside 'Ohm', a giant-mutant-insects that resident Sea of Decays/Toxic Jungle. Nausicaä's world is the one where human-being harmed nature so bad that it triggers 'natural-mechanism' to counter our existence. Actually, a lesson to fight brutal industrialization and raging wars like today.
Nausicaa of the Valley of the Wind's Poster (1984)
Source: www.nonamemovieblog.wordpress.com

Futhermore, this movie was scored 8.1/10 by IMDb, recommended by World Wild Fund (WWF), and advocating environmental issues throughout decades. It still shivers me to know that this movie was made in 1984, and the story's becoming more relevant to our reality day by day. Beside the idea of environmentalism, a story of young princess who protects her people, doing research (science!), fights decisively, and befriends ugly creature like Ohm is extraordinary and charming in the same time. It is incomparable to the common princesses who only wait for its prince to save herself from the witch. Nausicaä is a beautiful story for all ages.

Somewhat, the gliders of the Valley of the Wind (a wind-riding vehicle) and the aircrafts there also fascinate me. I believe that it (and also with "A Castle in the Sky" (1986)'s aircrafts, another Ghibli's movie) inspire the design of "Wind Rider" (2006) and "Windrider: Sky Age" (2010), an Indonesian comic made by Is Yuniarto. I do not know where the first inspiration of these gliders come from. Even DaVinci's work and Mayan's relic have a similar design too. Well, not really important though. What important is, "Nausicaä, the Valley of the Wind" start my adventure with the beauty of Studio Ghibli's masterpieces.

"Spirited Away", "My Neighbor Totoro", and "Princess Mononoke" to go!

Kukusan,

Rabu, 10 Februari 2016

MUSIK "INDONESIA MAHARDDHIKA" YANG MELEGENDA

Bagi saya, inilah salah satu musik terbaik yang pernah saya dengar. Berjudul "Indonesia Maharddhika" yang dibawakan oleh Guruh Gipsy, band yang dibentuk pada tahun 1976 oleh Guruh Soekarnoputra (composer, pianist, gamelan), Odink Nasution (lead-guitarist), Keenan Nasution (drummer), Chrisye (bassist), Roni Harahap (pianist-keyboardist), dan Abadi Soesman (keyboardist-synthesizer) [1].
Yap, Anda tak salah baca. Itu adalah nama Guruh, anak laki-laki Presiden Pertama RI yang lebih memilih jalur seni sebagai jalan hidupnya. Itu juga nama Keenan yang melegenda dengan lagu seperti "Nuansa Bening" dan "Zamrud Khatulistiwa", serta (alm.) Chrisye yang dipuja lewat lagu "Badai Pasti Berlalu". Nama-nama besar ini berhasil menciptakan 'masterpiece' yang menggema di dunia. Sayang sekali jika Anda tak pernah menikmati dentingan etnik dan cabikan prog-rock dari mereka!
Sampul Album "Indonesia Maharddhika" Guruh Gipsy (1977)
(Sumber : www.youtube.com)

Lagu "Indonesia Maharddhika" sendiri ditulis dalam tiga bahasa, yakni Bahasa Bali, Bahasan Sansekerta, dan Bahasa Indonesia, bercerita tentang Indonesia yang mereka cintai [2]. Lagu ini merentang lebih kurang sepanjang 15 menit. Bukan durasi yang biasa untuk sebuah lagu, namun saya jamin Anda takkan bosan dengan alunan naik-turun dan harmoni yang disuguhkan oleh paduan gamelan Jawa-Bali dan alat-alat musik modern di sini.
"Indonesia Maharddhika" yang sudah 'berusia' hampir 40 tahun ini menempati peringkat ke-59 lagu Indonesia terbaik sepanjang masa versi Majalah Rolling Stone (2009), di mana urutan pertama bertengger lagu "Bongkar"-nya Iwan Fals [3]. Tidak hanya itu, album "Indonesia Maharddhika" sendiri adalah album Indonesia kedua terbaik sepanjang masa, hanya satu peringkat di bawah album terbaik "Badai Pasti Berlalu"-nya Chrisye, versi Majalah Rolling Stone (2007), di mana lagu aransemen Guruh Gipsy lainnya, "Chopin Larung" juga disambut baik [4].
Tak perlu banyak cakap lagi, selamat menikmati!

Sumber : [1] http://everything.explained.today/Guruh_Gipsy/ [2] http://entertainment.kompas.com/read/2014/11/27/152922810/Ada.yang.Tersembunyi.dalam.Lirik.Lagu.Indonesia.Maharddhika. [3] http://musiksyairlagu.blogspot.co.id/2014/04/guruh-gipsy-indonesia-mahardika.html [4] https://id.wikipedia.org/wiki/150_Album_Indonesia_Terbaik [5] http://www.rollingstone.co.id/article/read/2015/08/18/140503333/81/17-lagu-indonesia-bertema-kebangsaan-terbaik

Kukusan, 11 Februari 2016

Rabu, 27 Januari 2016

DISCUS (BAND) MEWARNAI MUSIK DUNIA

Ini adalah standart musik "keren" bagi saya sejak SMA. Ya saya selalu memilih untuk tidak mengikuti trend yang sedang berkembang dan lebih memilih ranah indie atau nostalgia, sebagaimana gandrungnya saya dengan SERINGAI dan GOD BLESS saat itu.
Judul lagu ini adalah "System Manipulation" yang dibawakan oleh band indie bergenre progressive-rock-bercampur jazz dan ethnic, bernama DISCUS. Musik yang luar biasa dengan hentakan khas progressive-rock ditambah bumbu-bumbu seruling sunda serta denting gamelan bali yang magis selama 9 menit.


(Sumber : www.progarchives.com)

Hebohnya, saya baru tahu jika ada band Jepang bernama 京大プログレ部 (nama internasional mereka adalah King Crimson -- https://twitter.com/ku_progyang meng-cover lagu "rumit nan bikin merinding" ini dengan sangat baik! Coba tonton deh.
colonthree emotikon

Untuk versi live dari band aslinya, sempat tayang di program RadioShow TVOne periode 2012 dan bisa ditonton di sini (lagu "System Manipulation" dimulai menit 9:31).

Band DISCUS sendiri digawangi oleh musisi-musisi berbakat negeri ini. Salah satunya adalah Iwan Hasan, seorang lulusan sekolah musik di Amerika, yang kerap membawakan musik etnik Indonesia dan secara khas memainkan alat musik bernama 21-strings guitarharp.


Iwan Hasan dan gitar-harpa 21 senar-nya dalam acara JavaJazz.
(Sumber : www.wartajazz.com)


Di dalam negeri, mungkin gaung musik DISCUS tak banyak orang yang tahu, namun di luar negeri, mereka sudah naik-turun panggung, dari Jerman, Swiss, Meksiko, hingga Amerika Serikat. DISCUS memang baru menelurkan dua album, yakni "1st" (1999) dan "...tot Licht!" (2003), akan tetapi pengaruh musik mereka sudah diakui secara monumental! Kita perlu lebih banyak menikmati dan mendorong musisi-musisi mengagumkan seperti mereka. smile emotikon

Salute.
(Kukusan, 28 Januari 2016)

BLI TRAWAN "IRONMAN INDONESIA", KESENJANGAN, DAN AKHIR UMAT MANUSIA


"...Bli Tawan juga bercerita, “kalau saya orang tidak baik, mesin pengupas jagung bisa saja saya sket untuk langsung otomatis bekerja, tanpa manusia bisa otomatis. Tapi saya berpikir, itu namanya saya mematikan rejeki orang lain. Maka saya buat, agar mesin itu berfungsi dan manusia nya (buruh) juga bisa tetap bekerja,” tutur nya lagi." [1]

Selain Si Penulis (citizen journalist) yang luar biasa karena mendatangi langsung Bli Tawan "Iron Man Indonesia" untuk melakukan verifikasi (ya, VERIFIKASI, yang seharusnya menjadi tugas jurnalis media 'beneran'), cuplikan pernyataan Bli Tawan di atas sangat menarik. Kutipan ini sejalan dengan video wawancara bersama Prof. Stephen Hawking yang saya tonton semalam. Video itu mendiskusikan bahaya Artificial Intelligence (AI) dan robot bagi umat manusia.
Secara singkat, Prof. Hawking berargumen bahwa AI akan memusnahkan peradaban manusia JIKA digunakan oleh KAPITALISME sebagai moda produksi tanpa batas, menggantikan lapangan kerja, dan memperlebar kesenjangan ekonomi [2]. Tidak hanya itu, penumpukan modal juga membuat teknologi seperti AI hanya dapat diakses oleh para pemilik modal. "Selama ini kapitalisme telah menunjukkan hal itu," ujarnya. Jadi bukan AI-lah yang patut kita takuti, tetapi kapitalisme yang semakin serakah.

Apa hubungannya dengan Bli Tawan? Bli Tawan adalah korban kesenjangan. Dirinya yang dikucilkan karena terlahir dalam keluarga orang tua disabilitas dan lumpuh kesulitan mendapatkan pekerjaan. Ia terpaksa hidup seadanya. Beruntung Bli Tawan memiliki kawan dan pikiran yang mendorongnya berinovasi menciptakan lengan bionic-nya sendiri. Beruntung pula, walau dia tidak berpunya, dirinya masih jauh lebih baik daripada korporasi-korporasi yang menghisap kaum buruh seenak jidat. Bayangkan, di tengah pencarian rezekinya sendiri, ia masih memikirkan rezeki orang lain, kawan-kawan!

Bli Trawan dan tangan bionic-nya.
(Sumber: kompasiana.com)


Bli Trawan memang cemerlang dan berhati baja. Namun kita juga perlu merenung, bahwa umat manusia akan musnah bukan oleh AI atau robot itu sendiri, namun oleh kapitalisme. Akses seluas-luasnya terhadap modal harus menjadi keniscayaan untuk mengentaskan kesenjangan. Masih banyak orang-orang tak berpunya seperti Bli Tawan yang membutuhkan bantuan teknologi namun terlalu mahal.

Sudah ada beberapa konsep yang berkembang: open-sourcing, crowd-sourcing, copyleft, open-society, dsb., untuk membuka akses yang lebar bagi siapa saja terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Ini yang harus selalu kita usahakan, agar AI+robot tidak hanya memudahkan kaum kapitalis mengeruk keuntungan, tapi benar-benar membantu hidup semua orang.

(Kukusan, 27 Januari 2016)

Sumber:


[1] http://www.kompasiana.com/takutpada-allah-/mengungkap-rahasia-lengan-robot-bli-tawan_56a597b63dafbdf80450453b

[2] http://www.huffingtonpost.com/entry/stephen-hawking-capitalism-robots_us_5616c20ce4b0dbb8000d9f15

Update:
https://www.facebook.com/KompasTV/videos/1073821262670105/

Sabtu, 29 Agustus 2015

Kepompong yang tak Kunjung Berkembang


Apakah kau tahu tentang kisah seekor kepompong yang tak kunjung berkembang?
Mari aku ceritakan.

Di sebuah belantara yang tak pernah padam,
dengan perjuangan dan kebengisan,
kepompong ini tumbuh.
Berawal dari ulat kecil yang polos dan bodoh,
ia sendirian memintal dirinya dengan benang ketidaktahuan.
Dimana teman-temannya memintal dengan benang harapan dan kepastian.
Ia hanya seekor ulat yang polos dan bodoh,
menjadi kepompong yang mudah dilupakan.

Berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun.
Satu per satu kepompong berkembang,
menjadi kupu-kupu anggun yang penuh harapan.
Warna-warni membawa ide akan masa depan,
untuk sekitarnya, atau hanya untuk diri seorang.
Mereka terbang menantang dunia yang fana.

Tak lama kemudian, kupu-kupu ini berguguran.
Ada karena terik mentari kepalsuan,
sengat ketidaktahudirian,
atau asap industri kebatilan.
Warna-warninya punah dirundung zaman,
walau beberapanya terbang ke masa depan yang benderang.

Lalu bagaimana dengan ulat kecil yang polos dan bodoh itu?
Ia hanya menjadi kepompong yang tak kunjung berkembang.

(Kukusan, 29 Agustus 2015)

Sabtu, 09 Mei 2015

BERAKRABAN DENGAN BENCANA


Pada Sabtu, 25 April 2015 lalu, Nepal diguncang gempa bumi berkekuatan 7,8 Skala Ritcher yang menewaskan 7.365 jiwa dan jumlah korban cedera tercatat 14.366 orang (5/5)[1]. Gempa ini disebabkan oleh benturan lempeng benua India dan Eurasia yang berpusat pada kedalaman 15 kilometer di bawah tanah sekitar wilayah Kathmandu, ibukota Nepal. Akibat gempa tektonik ini, setidaknya 600 ribu rumah rusak, 4.500 sekolah hancur, dan sekitar dua juta orang membutuhkan tenda, air, makanan, dan obat-obatan. Nepal juga pernah mengalami bencana serupa pada tahun 1934, di mana 20 ribu jiwa tewas akibat gempa berkekuatan 8,0 Skala Ritcher.

Puing-puing bangunan pasca gempa di Distrik Bhaktapur, Nepal (25/4).
Sumber: Niranjan Shrestha/ASSOCIATED PRESS

Alam Indonesia dan Bencana

Indonesia pernah mengalami gempa dengan karakteristik serupa pada 27 Mei 2006 di Yogyakarta. Gempa ini juga diakibatkan oleh benturan lempeng benua pada kedalaman 17 kilometer di bawah tanah sekitar pesisir Pantai Selatan Jawa yang padat penduduk hingga menewaskan 6.234 jiwa. Tidak hanya sekali, gempa bumi memang kerap terjadi di Indonesia. 26 Desember 2004 di Aceh, gempa berkekuatan 9.3 SR yang diikuti tsunami mengakibatkan 131.028 jiwa meninggal dan 37.000 orang hilang. 30 September 2009 di sekitar Kota Padang, Sumatera Barat, gempa berkekuatan 7,6 SR menewaskan 1.115 jiwa dan menyebabkan 135.299 rumah rusak berat[2]. Selain gempa tektonik akibat benturan lempeng benua, Indonesia juga banyak mengalami gempa vulkanik seperti yang diakibatkan oleh letusan Gunung Tambora, Nusa Tenggara Barat pada tahun 1815, dan letusan Gunung Krakatau di Selat Sunda pada tahun 1883 yang dampaknya terasa di seluruh penjuru dunia.

Alam Indonesia menyimpan sejuta potensi bahaya dan bencana yang bisa datang kapan saja dan di mana saja. Hal ini disebabkan oleh posisi Indonesia yang berada pada patahan lempeng Eurasia dan Indo-Australia layaknya Nepal, disebut sebagai subduksi Sunda Megathrust yang membentang sepanjang garis pantai selatan Indonesia dan bertemu dengan lempeng Pasifik dan Filipina di dekat Maluku. Kondisi ini membuat Indonesia memiliki 130 gunung berapi aktif dan rawan mengalami gempa bumi. Selain gempa bumi, kondisi alam yang demikian juga membuat Indonesia rawan mengalami bencana lainnya seperti tsunami, tanah longsor, lahar dingin, dan banjir.

Peta lempeng benua antara Nepal dan Indonesia.
Grafis: dongenggeologi.com/Rovicky Dwi Putrohari
Bencana alam telah mengakibatkan ribuan orang meninggal dunia, serta dapat terus berguguran dan menimpa siapa saja. Manusia tidak dapat menolak terjadinya bencana, namun dapat melakukan persiapan dan mengambil langkah pencegahan untuk meminimalisasi risiko dan dampak yang mungkin terjadi, atau berakraban dengan bencana. Langkah-langkah yang dimaksud dikenal sebagai ‘mitigasi bencana’.

Mitigasi bencana adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana (Pasal 1 ayat 6 PP No 21 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana). Jadi, mitigasi bencana dapat dilakukan secara struktural terhadap pembangunan fisik bangunan agar lebih tahan gempa, tata wilayah yang berorientasi pencegahan bencana, sistem pencegahan dan penanggulangan bencana yang sistematis dan cepat-tanggap, serta secara non-struktural yang berkaitan dengan sosialisasi dan persiapan masyarakat tanggap bencana. Sedangkan untuk mengetahui risiko bencana (risk) ini, kita perlu memperhitungkan tiga faktor, yakni bahaya (hazard), kerentanan (vulnerability), dan kapasitas (capacity) yang terdapat pada suatu wilayah.

Bahaya adalah kejadian yang berpotensi menyebabkan kecelakaan, cedera, hilangnya nyawa atau kehilangan harta benda. Bahaya dianggap sebuah bencana (disaster) apabila telah menimbulkan korban dan kerugian.
Kerentanan adalah rangkaian kondisi yang menentukan, baik bahaya alam atau buatan, dapat menimbulkan bencana atau tidak. Rangkaian kondisi yang dimaksud dapat mempengaruhi kemampuan masyarakat dalam melakukan pencegahan, mitigasi, persiapan dan tindak-tanggap terhadap dampak bahaya, antara lain berupa,
  • Kerentanan fisik    : bangunan, infrastruktur, konstruksi yang lemah;
  • Kerentanan sosial  : kemiskinan, lingkungan, konflik, anak-anak, wanita, lansia;
  • Kerentanan mental: ketidaktahuan, tidak menyadari, kurangnya percaya, dsb.
Kapasitas adalah kemampuan untuk memberikan tanggapan terhadap situasi bahaya/bencana dengan sumber daya yang tersedia (fisik, manusia, keuangan, budaya dan lainnya).
Risiko adalah potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada suatu wilayah dalam  kurun waktu tertentu yang dapat berupa kematian, luka, sakit, hilangnya rasa aman, mengungsi, kerusakan atau kehilangan harta, dan gangguan kegiatan masyarakat yang diakibatkan oleh kombinasi bahaya, kerentanan, dan kapasitas yang ada.[3]

Yang Penting untuk Berakraban dengan Bencana

Ada empat hal penting dalam mitigasi bencana dan dapat kita lakukan bersama, yakni
  1. Penyediaan informasi dan peta kawasan rawan bencana untuk tiap jenis bencana yang dapat disediakan oleh Pemerintah Daerah setempat bekerjasama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (www.bmkg.go.id), Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Kementerian ESDM (www.vsi.esdm.go.id), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (www.bnpb.go.id), dan lembaga lainnya, serta dipublikasikan secara luas di tempat-tempat umum.
  2. Sosialisasi untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat dalam menghadapi bencana dengan melibatkan komunitas, organisasi non-pemerintah, tokoh masyarakat, dan pemuda secara rutin dan berkelanjutan.
  3. Mengetahui apa yang perlu dilakukan dan dihindari, serta mengetahui cara penyelamatan diri jika bencana timbul. Hal ini dapat dilakukan melalui pendidikan formal kepada anak-anak, rapat/rembug warga, seminar, workshop, dan simulasi yang dilakukan di tengah masyarakat umum. Pembuatan media sosialisasi secara kreatif dan inovatif juga perlu dilakukan untuk memperluas pengetahuan akan mitigasi dan penanggulangan bencana.
  4. Pengaturan dan penataan kawasan rawan bencana untuk mengurangi ancaman bencana. Hal ini dapat dilakukan dengan memperkuat koordinasi dan sinergi antar lembaga, serta pemanfaatan teknologi kebencanaan secara luas seperti konstruksi bangunan tahan gempa, hydrant, tsunami warning system, dan penggunaan robot/drone untuk membantu proses evakuasi bencana.
Tidak ada manusia yang ingin terimpa bencana, dan kita tidak dapat menyalahkan alam akan bahaya yang dapat datang tiba-tiba. Oleh sebab itu, kita perlu mengakrabkan diri dengan bencana, mengenal dan memahami risiko, serta mengetahui tindak-tanggap yang harus dilakukan sebelum, di saat, dan sesudah bencana agar kita tidak kaget ketika berjumpa dengannya. Biasanya badai yang dahsyat berawal dari malam yang tenang. Penulis harap tidak demikian, karena Indonesia sudah sedia payung sebelum hujan.

***
Depok, 9 Mei 2015.
Langitantyo Tri Gezar – Gerakan Mari Berbagi

Informasi lebih lanjut mengenai mitigasi bencana dan yang harus dilakukan di saat bencana, baca



[1]Tempo. 5 Mei 2015. Gempa Nepal: Korban Jiwa Sudah Mencapai 7.365 Orang. http://www.tempo.co/read/news/2015/05/05/118663578/Gempa-Nepal-Korban-Jiwa-Sudah-Mencapai-7365-Orang, diakses pada 9 Mei 2015.
[2]Wikipedia. Daftar gempa bumi di Indonesia. http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_gempa_bumi_di_Indonesia, diakses pada 9 Mei 2015.
[3]Pusat Pendidikan Mitigasi Bencana (P2MB), Universitas Pendidikan Indonesia. Apakah Mitigasi Bencana itu? http://p2mb.geografi.upi.edu/Mitigasi_Bencana.html, diakses pada 9 Mei 2015.


Rabu, 25 Februari 2015

Heavenfire

Heavenfire
By: Langitantyo Tri Gezar

Humankind always try to conquer
Eat weaklings, prey each other
After and after doing the same
Very disgusting: shedding blood and telling lies
Everyday, everytime
No one free from these reality.

From Adam and Eve
Illusion become their sanity
Religion become their weaponry
Eradicate people who oppose authority.

In the name of God!
Soak themselves with hypocrisy
Light a fire in heaven
All struggle must be done
Millions can’t be sacrificed again.

Anything left for our life
Like a sip of water in burning desert
Love that is left for our life
Against all hypocrisy and insanity
Humankind always try to love.

Kukusan, 21 Oktober 2014

*This poem was submitted in English Days UGM 2014 Poem Competition.